Taubat dari Dosa Besar

Oleh Nu'man An-Nabighoh
09-Oct-2003 17:58:48
T: Mohon penjelasan atas pertanyaan saya berikut ini:

1. Setiap manusia pasti punya dosa, apakah dosa-dosa besar (seperti zina) dapat terampuni jika ia bertaubat?

2. Apakah doa yang tulus ikhlas dari orang yang bertaubat dan disertai dengan rajin shalat hajat dapat dikabulkan Allah?

3. Doa apa saja yang dibaca selesai shalat hajat dan shalat wajib ?


Riya, Semarang


J: Memang benar, setiap manusia di dalam hidupnya pasti pernah berbuat kesalahan ataupun dosa. Ungkapan mengatakan ''manusia adalah tempatnya salah dan lupa''. Jadi wajar bila manusia pernah berbuat salah atau dosa, tetapi tentu tidak wajar kalau ia terus-menerus berbuat kesalahan atau dosa. Bagaimanapun juga, kesalahan-kesalahan dan dosa-dosa tersebut tidak boleh membuat manusia semakin terpuruk. Oleh karenanya, Allah Yang Maha Penyayang terhadap hamba-Nya memberikan sarana bagi mereka yang berbuat dosa itu untuk memperbaiki diri mereka melalui taubat.

Pembicaraan taubat dalam Alquran banyak dijumpai pada berbagai ayatnya dan bertaubat merupakan perbuatan yang diperintahkan Allah, terutama bagi mereka yang telah berbuat dosa atau kesalahan.

Allah berfirman; ''Hai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kepada Allah dengan taubat yang semurni-murninya.'' (QS. Attahrim (66): 8); ''Maka mengapa mereka tidak bertaubat kepada Allah dan memohon ampun kepada-Nya? dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.'' (QS. Almaidah (5): 74).

Di samping itu, Alquran juga menjelaskan tentang cara-cara bertaubat, hakekat taubat, taubat yang diterima serta yang tidak diterima dan sebagainya.

Dari penjelasan-penjelasan dalam Alquran tersebut dapat disimpulkan bahwa pada dasarnya tidak ada dosa seseorang yang tidak terampuni, bahkan dosa orang kafir sekalipun, asalkan orang tersebut melakukan taubat yang sebenar-benarnya.

Di antara ciri orang bertaubat yang sebenarnya adalah orang tersebut segera menyadari dosanya dan ia cepat-cepat memohon ampun kepada Allah atas dosanya tersebut serta tidak mengulangi lagi dosa-dosanya (baca QS. Annisa; (4): 17). Taubat seperti ini Insya Allah akan diterima oleh-Nya, betapa pun besarnya dosa-dosa tersebut. Sedangkan taubat yang tidak diterima adalah taubat yang dilakukan karena terpaksa, tidak dilakukan secara sungguh-sungguh dan dilakukan hanya ketika ajal sudah mendekat.

Mengenai pertanyaan pertama Anda, memang scara khusus Alquran menyebut dosa-dosa besar yang dapat terampuni melalui taubat, seperti dosa berzina, mencuri, membunuh, dan lainnya. Misal, dalam surat Annisa' (4) ayat 16 Allah berfirman: ''Dan terhadap dua orang yang melakukan perbuatan keji (zina) di antara kamu, maka berilah hukuman kepada keduanya, kemudian jika keduanya bertaubat dan memperbaiki diri, maka biarkanlah mereka. Sesungguhnya Allah Maha Penerima Taubat dan Maha Penyayang.''

Dari ayat ini dapat dijelaskan, ada dua prasyarat bagi diampuninya dosa berzina, yaitu bertaubat, yakni meninggalkan sama sekali dan tidak mengulangi perbuatan itu (Jawa: kapok), dan memperbaiki diri dengan cara banyak berbuat kebaikan dan kebenaran. Kalau kedua prasyarat itu dipenuhi sebaik-baiknya, maka Insya Allah, Ia akan memberikan ampunan-Nya. Bukankah Allah itu Maha Pengampun lagi Maha Penyayang?

Permasalahan doa juga banyak dibicarakan Alquran dan ia juga merupakan perbuatan yang diperintahkan Allah. Allah berfirman: ''... Aku mengabulkan permohonan orang yang mendoa apabila ia berdoa kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah)-Ku dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku...'' (QS Albaqarah (2) : 186). Dari penjelasan ayat ini kita bisa memahami bahwasanya Allah akan mengabulkan permohonan setiap hamba-Nya yang berdoa kepada-Nya. Dalam hal ini Allah tidak mengenal pilih kasih, siapa pun orangnya, yang memohon kepada-Nya, Dia berjanji akan mengabulkannya.

Hanya saja perlu diingat, sebagaimana ayat di atas, ada prasyarat bagi diterimanya doa (permohonan) seseorang, yaitu: pertama, orang tersebut terlebih dahulu harus melaksanakan segala perintah-Nya juga meninggalkan larangan-Nya; kedua, orang tersebut harus beriman kepada-Nya, dalam arti ia harus meyakini akan ke-Mahakuasaan, ke-Mahabesaran, dan ke-Mahapemurahan-Nya.

Di samping itu, seperti disebutkan dalam hadis, dalam berdoa orang tersebut harus penuh yakin bahwa Allah akan mengabulkan doa-doanya. Bagaimana Allah akan mengabulkan doanya sementara dia sendiri tidak yakin akan terkabulkan doa itu. Itu artinya dia tidak meyakini akan Kekuasaan, Keagungan, dan Kemurahan Allah.

Mengenai doa yang dapat dibaca sehabis shalat sebenarnya banyak dan tidak ada batasannya. Di sini saya kutipkan sebuah hadis riwayat Albukhari yang menyatakan bahwa sayyidul istigfar (bacaan istigfar yang paling utama) adalah membaca doa berikut ini: ''Allahumma anta rabbi lailaha illa anta khalaqtani wa ana 'abduka wa ana 'ala 'ahdika wa wa'dika mastatha'tu. A 'udzu bika min syarri ma shana'tu abu'u laka bini'matika 'alayya wa abu'u laka bidzanbi faghfirli fainnahu la yaghfirudzdzunuba illa anta.

(Ya Allah Engkaulah tuhanku tiada tuhan melainkan Engkau, Engkau yang menciptakanku, aku adalah hamba-Mu dan aku terikat pada ikatan dan janji-Mu dan aku tidak berkuasa. Aku mohon perlindungan-Mu dari kejelekan yang telah kuperbuat, aku mengakui nikmat yang telah Engkau berikan kepadaku dan aku mengakui dosaku, maka ampunilah aku karena tiada yang bisa mengampuni dosa-dosa melainkan Engkau).

Doa ini sangat utama dibaca setiap saat, baik siang maupun malam, begitu juga sehabis shalat, karena berisikan tentang pengakuan seorang hamba sepenuhnya di hadapan Allah akan kelemahan, ketidakberdayaan, dan dosa-dosanya. Wallahu'alam. (35)


apa gunanya wajah yg tampan dan tubuh badan yang kuat seandainya solat lima waktu tidak dapat dijaga.fikir-fikirkan lah.
Please login or register to leave a comment.

Aktiviti Pengguna

Audio/Video Kuliah Terkini