Hukum melihat kemaluan suami isteri

Oleh Nu'man An-Nabighoh, 19-Jul-2003 23:00:47
Hukum melihat kemaluan suami - isteri
..............
> >
> > eramuslim - Masih terdapat perdebatan seputar hukum melihat
kemaluan
> > isteri/suami. Sebagian kaum Muslimin menganggap hal itu terlarang,
> > dan sebagian lainnya menganggapnya boleh. Walhasil masih terdapat
> > kontroversi tentang boleh-tidaknya suami/isteri melihat kemaluan
> > pasangannya. Untuk meluruskan hal yang masih menjadi perdebatan
dalam
> > masyarakat kaum Muslimin itu, Yusuf Qordhowi dalam bukunya "Fatwa-
> > Fatwa Kontemporer" memberikan penjelasan panjang-lebar.
> >
> > Fuqoha kaliber internasional itu mengawali bahasannya dengan
mengutip
> > kitab Tanwirul Abshar dan syarahnya ad-Durrul Mukhtar, dari kitab-
> > kitab Hanafiyah, tentang bolehnya suami melihat apa saja pada
> > isterinya. Kitab-kitab itu mengisyaratkan bolehnya melihat isteri,
> > baik yang lahir maupun yang tersembunyi, bahkan terhadap
kemaluannya
> > sekalipun, dengan syahwat maupun tanpa dengan syahwat.
> >
> > Namun dalam ad-Durrul juga disebutkan; "Dan yang lebih utama adalah
> > meninggalkannya, karena melihat kemaluan itu bisa menjadikan orang
> > mudah lupa. Bahkan ada yang mengatakan dapat menjadikan seseorang
> > melemah daya penglihatannya."
> >
> > Syaikh Qordhowi membantah pendapat di atas. Penjelasan tersebut
> > menurutnya, berarti memberi illat (solusi) dengan illat-illat yang
> > tidak syar'iyah, karena tidak ada nash yang menerangkan demikian
baik
> > dari Al-Kitab maupun As-Sunnah. Maka dilihat dari sudut keilmiahan,
> > yang demikian itu tertolak serta tidak tidak ada hubungan yang
> > rasional dan faktual antara sebab dan akibat.
> >
> > Untuk menguatkan pandangan tentang lebih utama tidak melihat
kemaluan
> > pihak lain, di dalam kitab al-Hidayah dikemukakan suatu hadits.
> >
> > "Apabila salah seorang di antara kamu mencampuri isterinya, maka
> > hendaklah sedapat mungkin ia menutup kemaluannya, dan janganlah
> > mereka bertelanjang bulat seperti keledai."
> >
> > Namun Ibnu Umar berpendapat; "Lebih utama melihat kemaluan (pihak
> > lain), karena hal itu lebih dapat menghasilkan kenikmatan."
> >
> > Selanjutnya Yusuf Qordhowi mengutip kata-kata Abu Yusuf, sebagai
> > berikut. "Dan diriwayatkan dari Abu Yusuf, saya pernah bertanya
> > kepada Imam Abu Hanifah mengenai seorang laki-laki yang menyentuh
> > kemaluan isterinya, dan si isteri menyentuh kemaluan suami untuk
> > membangkitkan nafsunya. Apakah yang demikian itu terlarang? Beliau
> > menjawab; "Tidak, dan saya berharap pahalanya semakin besar."
> >
> > Barangkali beliau (Imam Hanafi) merujuk pada hadits sahih berikut;
> >
> > "Pada kemaluan setiap orang di antara kamu itu ada sedekah. Para
> > sahabat bertanya; "Wahai Rasulullah apakah jika salah seorang di
> > antara kami melepaskan syahwatnya (mencampuri isterinya) itu
mendapat
> > pahala?" Beliau menjawab; "Benar. Bukankah kalau dia meletakkannya
di
> > tempat yang haram dia berdosa? Demikian pula jika dia meletakkannya
> > di tempat yang halal, maka dia mendapat pahala. Apakah kamu
> > menghitung kejelekan saja tanpa menghitung kebaikan?"
> >
> > Adapun hadits yang dijadikan dalil dalam kitab al-Hidayah - yang
> > melarang suami isteri bertelanjang bulat ketika bercampur > ->
tidak >
> > dapat dijadikan hujjah karena dhoif.
> >
> > Sementara Ibnu Hazm menolak keras pendapat yang bertentangan dengan
> > firman Allah surat Al Mu'minun ayat 5-6. Bunyinya sebagai berikut;
> > Dan orang-orang yang menjaga kemaluannya, kecuali terhadap istri-
> > istri mereka atau budak yang mereka miliki, maka sesungguhnya
mereka
> > dalam hal ini tiada tercela."
> >
> > Dalam kitabnya al-Muhalla, Ibnu Hazm berkata; "Halal bagi seorang
> > laki-laki melihat kemaluan isterinya dan budak perempuan yang halal
> > digaulinya. Demikian pula si isteri dan budaknya itu halal melihat
> > kemaluannya, tidak makruh sama sekali.">
> >
> > Dalilnya ialah riwayat-riwayat yang masyhur dari Aisyah, Ummu
> > Salamah, dan Maimunah > -> ibu-ibu kaum mukmin rodhiyallahu anhuma
> ->
> > bahwa mereka pernah mandi janabat bersama Rasulullah saw, dalam
satu
> > bejana.
> >
> > Dalam riwayat Maimunah dijelaskan bahwa Nabi saw tidak mengenakan
> > sarung, sebab dalam riwayat itu dikatakan bahwa beliau memasukkan
> > tangan beliau ke dalam bejana lalu menuangkan air ke atas
kemaluannya
> > dan mencucinya dengan tangan kiri beliau.
> >
> > Maka tidaklah tepat apabila berpaling kepada pendapat lain, setelah
> > adanya keterangan demikian tersebut.
> >
> > Sedang hadits yang dijadikan alasan oleh Ibnu Hazm itu tertera
dalam
> > Shahih al-Bukhari dari Ibnu Abbas, dari Maimunah Ummul Mu'minin, ia
> > berkata;
> >
> > "Aku pernah menutupi Nabi saw (dengan tabir) ketika beliau sedang
> > mandi jinabat, lalu beliau mencuci kedua tangan beliau, lantas
> > menuangkan air dengan tangan kanannya atas tangan kirinya. Kemudian
> > beliau mencuci kemaluannya dan apa yang mengenainya."
> >
> > Diriwayatkan juga dalam Shahih al-Bukhari, dari Aisyah, ia
> > berkata; "Aku pernah mandi bersama Nabi saw dalam sebuah bejana
(bak
> > mandi) yang bernama al-Faraq.
> >
> > Bolehnya suami melihat kemaluan isterinya, diperkuat oleh Qordhowi
> > dengan mengutip pendapat Al-Hafidz Ibnu Hajar. Dalam bukunya Fathul
> > Bari, Ibnu Hajar berkata;
> >
> > "Hal ini diperkuat oleh riwayat Ibnu Hibban dari Sulaiman bin Musa
> > bahwa beliau pernah ditanya tentang hukum laki-laki melihat
kemaluan
> > isterinya, lalu beliau berkata; Aku bertanya kepada Atha', lalu
Atha'
> > menjawab; Aku bertanya kepada Aisyah, kemudian Aisyah mengemukakan
> > hadits tersebut di atas menurut maknanya." (sulthoni)

copy from email
ingatlah,kita yang harus mengawal hawa nafsu bukannya nafsu yang mengawal diri kita.INGAT!!!KEANGKUHAN HAWA NAFSU TIADA TOLOK BANDINGNYA.
Please login or register to leave a comment.

Aktiviti Pengguna

Audio/Video Kuliah Terkini