Pujian dan Cacian

Oleh jee
30-Mar-2005 08:31:04
Abu Musa ra menceritakan hadits berikut: “Nabi SAW mendengar seseorang sedang memuji lelaki lainnya dengan berlebihan. Maka beliau bersabda, “Kalian telah binasa atau kalian telah mematahkan punggung lelaki itu.” (HR. Syaikhain)

Abu Bakrah ra menceritakan hadits berikut: Seorang lelaki disebut-sebut di hadapan Nabi SAW. Ada seseorang memujinya dengan pujian yang baik, maka Nabi SAW bersabda, “Celakalah engkau, engkau telah memutuskan leher temanmu.“ Beliau mengucapkan kalimat ini berkali-kali, lalu melanjutkan, “Jika seseorang diantara kalian harus mengungkapkan pujian, hendaklah ia mengatakan, kuduga dia demikian dan demikian, jika memang ia melihat pada diri orang yang dipujinya itu demikian, tetapi yang menentukannya hanyalah Allah dan ia tidak dapat membersihkan seorang pun di hadapan Allah.” (HR Tsalatsah)

Syarah: Jika seseorang harus mengemukakan pujian, hendaklah ia mengatakan, “Aku menduga dia demikian dan demikian,”
www.myjodoh.net
berdasarkan apa yang ia lihat darinya. Dia tidak dapat memastikan akibatnya dan tidak dapat pula menentukan apa yang di kalbunya karena tiada yang mengetahui hal tersebut kecuali Allah SWT. Kalimat ini mengandung pengertian larangan memuji di hadapan orang yang bersangkutan, tetapi dengan pengertian pujian yang berlebih-lebihan atau ditujukan kepada orang yang dikhawatirkan akan menjadi 'ujub (kagum kepada diri sendiri). Adapun terhadap orang yang sempurna imannya, tidak ada kekhawatiran memuji di hadapannya karena hal itu akan menambah kesalehannya dan dia akan menjadi teladan yang baik bagi yang lain. Seperti yang disebutkan di dalam hadits delegasi Bani 'Amir, dan seperti yang telah disebutkan di dalam Bab Keutamaan yang di dalamnya banyak disebutkan bahwa Nabi SAW sering memuji para sahabat langsung di hadapannya. Juga karena berlandas kepada sebuah hadits yang mengatakan, “Apabila seorang mukmin dipuji di hadapannya, maka iman yang di dalam kalbunya makin bertambah tebal.”

Seorang lelaki datang, lalu mengungkapkan pujian kepada Khalifah Ustman secara langsung di hadapannya, maka Al-Miqdad Ibnu Aswad mengambil segenggam pasir, lalu menaburkannya ke wajah lelaki itu. Kemudian ia berkata bahwa Rasulullah SAW pernah bersabda, “Apabila kalian bersua dengan orang-orang yang banyak memuji, maka taburkanlah pasir pada muka mereka.” (HR. Daud, Muslim, dan Tirmidzi)

Syarah: Lalu ia taburkan pasir itu ke muka lelaki yang baru mengungkapkan pujian itu. Pengertian ini berdasarkan kepada makna lahiriah hadits. Demikian pendapat segolongan ulama, sedangkan segolongan ulama lain mengatakan bahwa makna hadits ini ialah: Buatlah mereka kecewa, jangan kalian memberi sesuatu pun kepada mereka sebagai imbalan pujiannya. Hal ini berkaitan dengan perihal suatu kaum yang biasanya menjadikan pujian sebagai tradisi dan usaha untuk meminta upah dari orang yang dipuji, dan mereka mengungkapkan pujian secara berlebih-lebihan sehingga orang yang dipuji terfitnah oleh pujiannya. Adapun orang yang memuji perbuatan baik dan akhlak yang mulia tanpa imbalan apa pun bukan termasuk maddaah.



Mencaci Maki

Ibnu Umar ra menceritakan hadits berikut, bahwa Nabi SAW pernah bersabda: “Barang siapa yang mengatakan kepada saudaranya, “hai orang kafir!”, sesungguhnya kalimat tersebut kembali kepada salah seorang diantara keduanya jika ternyata dia seperti apa yang dikatakannya, tetapi jika tidak, maka kalimat tersebut kembali kepadanya.” (HR Arba'ah)

Syarah: Barang siapa yang mengatakan kepada saudara semuslimnya kalimat 'Hai Kafir' atau 'Hai Fasik' dan kata-kata lain yang sejenis, maka apa yang dikatakannya itu mengenai orang yang ditujunya jika orang yang mengatakannya memang benar. Tetapi jika orang yang ditujunya itu tidak seperti apa yang dikatakannya, maka kata-kata tersebut berbalik kepada orang yang mengatakannya.

Abu Dzar ra menceritakan hadits berikut, bahwa ia pernah mendengar Nabi SAW bersabda: “Tidaklah seseorang melemparkan kata-kata fasik terhadap orang lain, dan tidak pula melempar kata-kata kafir kepadanya kecuali kata-kata tersebut berbalik kepadanya jika ternyata temannya itu tidak seperti apa yang dikatakannya.” (HR. Syaikhain).

Abu Hurairah ra menceritakan hadits berikut, bahwa Nabi SAW pernah bersabda: “Dua orang yang saling mencaci memperoleh seperti apa yang dikatakannya, sedangkan dosanya menimpa orang yang memulainya selagi orang yang dianiayanya tidak melampaui batas (dalam membalas caciannya).” (HR. Abu Daud, Muslim, dan Tirmidzi)

Syarah: Dua orang yang saling mencaci, dosanya menimpa orang yang mula-mula melakukannya diantara keduanya karena dialah penyebab adanya cacian tersebut, kecuali jika orang yang kedua berlebih-lebihan dalam membalas caciannya, maka lebihan dosanya akan menimpanya. Diwajibkan atas dua orang yang saling mencaci untuk bertobat dan kembali kepada Allah sesudah persengketaannya selesai, mudah-mudahan Allah mengampuni keduanya. Terlebih lagi jika keduanya berdamai dan bubar dalam keadaan berhati bersih, maka masing-masing kembali dengan membawa keberuntungan, sedangkan setan kembali dengan membawa kekecewaan dan kerugian.

Abu Hurairah ra menceritakan hadits berikut, bahwa Nabi SAW pernah bersabda: “Ada dua perkara di kalangan orang-orang yang keduanya membawa kepada kekufuran, yaitu memburuk-burukkan nasab dan nihayah atas kematian.” (HR. Muslim).

Syarah: Mengerjakan kedua perkara tersebut sama dengan perbuatan orang-orang kafir atau ingkar terhadap hak Islam. Memburuk-burukkan nasab, seumpamanya seseorang mengatakan kepada orang lain, “Engkau bukan anak ayahmu,” atau, “Engkau adalah anak zina,” dan sebagainya.

Abu Hurairah ra menceritakan hadits berikut bahwa Nabi SAW pernah bersabda: “Apabila seseorang mengatakan bahwa orang-orang telah binasa, maka dia adalah yang paling binasa.” (HR. Muslim dan Abu Daud).

Syarah: Abu Daud menambahkan bahwa Malik memberikan komentar, “Jika ia mengatakan hal tersebut dengan perasaan 'ujub (kagum) terhadap dirinya sendiri dan menganggap rendah orang lain, maka dia adalah orang yang paling binasa diantara mereka karena tabiatnya yang buruk itu. Jika ia mengatakan hal tersebut sebagai ungkapan rasa duka citanya terhadap orang-orang yang menganggap remeh agama, maka tidak mengapa.”

Siti Aisyah ra menceritakan hadits berikut, bahwa Rasulullah SAW pernah bersabda: “Apabila teman kalian meningal dunia, maka biarkanlah dia dan jangan sekali-kali kalian menyebutkan dengan sebutan yang buruk.” (HR. Abu Daud).

Syarah: Apabila teman kalian meninggal dunia, yakni orang mukmin yang menjadi teman kalian ketika ia masih hidup, maka biarkanlah dia dan jangan kalian menyebut-nyebutnya dengan sebutan yang buruk karena ia telah menemui semua amal perbuatannya yang telah dilakukannya selama di dunia. Mengumpat orang yang telah mati lebih buruk dan lebih keras karena ia merasa sakit sama dengan orang yang masih hidup dan karena meminta maaf kepadanya merupakan hal yang tidak mungkin, lain halnya mengumpat orang yang masih hidup. Kaum kerabatnya yang masih hidup ikut merasa sakit hati karenanya, seperti yang disebutkan di da;am hadits Tirmidzi yang mengatakan, “Janganlah kalian mencaci orang-orang yang telah mati karena hal itu menyebabkan kalian menyakitkan hati orang-orang yang masih hidup.” Yakni dari kalangan kaum kerabatnya.

Semoga Allah menjauhkan kita dari lisan yang suka memuji berlebihan dan gemar mencaci orang lain. (Arf-disarikan dari At-Tajj)


@}>--- i am what i am @}>---

 

webmaster@mymasjid.net.my