Kata-Kata Mutiara

Oleh manjalara
29-Nov-2004 15:44
Kata-Kata Mutiara Hikmah Mawlana Sulthanul Awliya Syaikh Muhammad Nazim Adil al Qubrusi al Haqqani


"Sebagaimana kalian mempercayai Mursyid, dia juga harus mempercayai kalian agar kalian dapat menjaga apa yang telah diamanahkan"

"Yang lebih penting daripada ilmu ialah
pemindahan ilmu tersebut dari hati ke hati "
"KedaulatanNya adalah Melalui KekekalanNya"

"Kita tidak minta untuk dikenali dan menjadi sesuatu, karena selagi kita menginginkannya, maka kita masih belum lagi sempurna"

"Perjumpaan dengan para awliya meringankan beban kita dan kita akan merasa ringan dan gembira" , "Adalah mustahil untuk kita memahami diri kita. Sekurang-kurangnya kita perlu melihat cermin, karena tiada siapapun yang dapat mengenali kepincangan di dalam dirinya "

"Saya tidak berkata, “Ikut saya,” karena saya tahu
siapa yang akan ikut "

"Keikhlasan dan politik tidak serasi sebagaimana iman dan penipuan "

"Perbedaan kamu dengan mursyidmu ialah kamu
bermegah-megahan"

"Urusan tariqat adalah serius, kami ingin membuat kamu bertanggungjawab"

“Tujuan kita adalah untuk melindungi serta melukiskan Nabi Muhammad sall-Allahu ‘alayhi wa aalihi wasallam dan sifat-sifat beliau yang luhur dan agung, baginya sholawat dan salam serta bagi ahli-bait dan sahabat-sahabat beliau yang untuk ini Allah mendukung kita!”

“Murid yang sesungguhnya dalam Tariqah
Naqshbandi-Haqqani adalah sahabat, penolong dan
pendukung dari setiap pembela Sayyidina Muhammad sall-Allahu ‘alayhi wasallam, dan adalah tugas kita untuk bersahabat dan berasosiasi dengan para pembela seperti itu, karena mereka berada pada jalan Mawlana, tak peduli apakah mereka adalah Naqshbandi atau bukan”.

“Sudah menjadi suatu aturan yang disepakati di antara Rijal-Allah, Para Kekasih Allah, bahwa keragaman jalan ini adalah “diperuntukkan bagi” mereka yang belum terhubungkan dan mereka yang belum mencapai akhir perjalanan, dan belum mendapatkan ‘amanat’-nya, sementara mereka yang telah mawsul (“sampai”) semua berada pada satu jalan dan dalam satu lingkaran dan mereka saling mengetahui dan mencintai satu sama lain”.

“ Mereka akan berada di mimbar-mimbar cahaya di Hari Kebangkitan. Karena itu, kita, para Murid dari jalan-jalan Tariqah mestilah pula saling mengetahui, mengenal dan mencintai satu sama lain demi keridhaan Allah dan Nabi-Nya serta para Kekasih-Nya agar diri kita mampu memasuki cahaya penuh barakah tersebut dan masuk dalam
lingkaran tertinggi dari suhba (persahabatan) dan
jama’ah, jauh dari furqa (perpecahan) dan keangkuhan”.

“Kita telah diperintahkan untuk mencintai orang-orang suci. Mereka adalah para Nabi, dan setelah para Nabi, adalah para pewaris mereka, Awliya’. Kita telah diperintahkan untuk beriman pada para Nabi, dan iman memberikan pada diri kita Cinta”.

“Cinta membuat manusia untuk mengikuti ia yang
dicintai. ITTIBA’ bermakna untuk mencintai dan
mengikuti, sementara ITA’AT bermakna [hanya] untuk mengikuti. Seseorang yang taat mungkin taat karena paksaan atau karena cinta, tapi tidaklah selalu karena cinta.”

“ Allah Ta’ala menginginkan hamba-hamba-Nya untuk mencintai-Nya. Dan para hamba tidaklah mampu menggapai secara langsung cinta atas Tuhan mereka. Karena itulah, Allah Ta’ala mengutus, sebagai utusan dari Diri-Nya, para Nabi yang mewakili-Nya di antara para hamba-Nya. Dan setiap orang yang mencintai Awliya’ dan Anbiya’, melalui Awliya’ mereka akan menggapai cinta para Nabi. Dan melalui cinta para Nabi, kalian akan menggapai cinta Allah Ta’ala.”

“Karena itu, tanpa cinta, seseorang tak mungkin dapat menjadi orang yang dicintai dalam Hadirat Ilahi. Jika kalian tak memberikan cinta kalian, bagaimana Allah Ta’ala akan mencintai kalian?”

“Namun manusia kini sudah seperti kayu kering, mereka menyangkal cinta. Mereka adalah orang-orang yang kering – tak ada kehidupan!
Suatu pohon, dengan cinta, bersemi dan berbunga dikala musim semi”.

“Tetapi kayu yang telah kering, bahkan seandainya
tujuh puluh kali musim semi mendatanginya, mereka tak akan pernah berbunga. Cinta membuat alam ini terbuka dan memberikan buah-buahannya, memberikan keindahannya bagi manusia. Tanpa cinta, ia tak akan pernah terbuka, tak akan pernah berbunga, tak akan pernah memberikan buahnya.”

“Jadi Cinta adalah pilar utama paling penting dari
iman. Tanpa cinta, tak akan ada iman. Saya dapat
berbicara tentang hal ini hingga tahun depan, tapi
kalian harus mengerti, dari setetes, sebuah samudera!”


Wa min Allah at taufiq
Kiriman : arief hamdani

Hadirku bagai kain buruk buat pengalas kaki

 

Please login or register to leave a comment.
webmaster@mymasjid.net.my