Menguatkan Keyakinan

Oleh Xmeng
26-Aug-2003 11:46
Alhamdulillah, segala puji bagi Allah Tuhan semesta alam. Salawat serta salam semoga tetap tercurahkan kepada junjungan kita Rasulullah saw beserta keluarga dan segenap sahabatnya serta seluruh kaum Muslimin yang mengikutinya.

Wahai kaum muslimin dan muslimat, bertakwalah kepada Allah dan tingkatkanlah keyakinannya kepada-Nya agar keyakinan itu tertanam kukuh dalam jiwa dan memenuhinya. Disaat seperti itu orang yang benar-benar kuat keyakinannya akan berkata seperti Imam Ali kw, "Sekiranya tabir penutup keajaiban tersingkap, tidaklah sedikit pun aku bertambah keyakinan."

Ini menunjukan kuat dan kukuhnya iman sehingga menjadi laksana gunung-ganang yang tinggi menjulang, takkan tergoncangkan oleh berbagai keraguan dan kebimbangan, sehingga tiada sedikitpun wujud keraguan dan kebimbangan mampu bersemayam dihati. Kalaupun hal itu datang dari luar, telinga takkan mengendahkanya, tidak pula hati akan berpaling kepadanya. Syaitan pun tidak akan mampu mendekati orang yang memiliki keyakinan seperti ini, bahkan ia akan lari ketakutan dan menghibur dirinya dengan keselamatan, seperti pernah diriwayatkan dalam sabda Rasulullah saw:

"Syaitan takut pada bayangan Umar. Kerana itu setiap kali Umar melintasi suatu lorong, pasti syaitan memilih lorong lainnya."

Keyakinan dapat dikuatkan dan diperelokkan dengan beberapa cara, antara lain:

Pertama (yang merupakan pokok dan sumber utama), berusaha mendengarkan dan menyemak dengan tekun ayat-ayat dan riwayat-riwayat yang mengungkapkan tentang keagungan Allah serta Kemampuan, Kebesaran, Keperkasaan dan Keautonomian-Nya dalam soal Penciptaan, Kekuasaan dan Kekuatan-Nya, tentang kebenaran para Rasul dan kesempurnaan mereka serta mukjizat-mukjizat yang diberikan Allah kepada mereka untuk mendukung kerasulan mereka, tentang berbagai hukuman dan akibat buruk bagi kaum penentang. Juga riwayat-riwayat tentang hari kiamat, termasuk yang bersangkutan dengan pahala yang diberikan kepada pelaku kebajikan dan hukuman yang ditimpakan kepada para pelaku kejahatan. Semua ini pada hakikatnya sudah cukup disyaratkan oleh firman Allah SWT:

"Tidak cukupkah bagi mereka bahawa kami telah menurunkan kepadamu al-kitab (Alquran) sedang ia dibacakan kepada mereka? Sesungguhnya dalam Al-Qur'an itu terdapat rahmat yang besar dan pelajaran bagi orang-orang yang beriman." (29: 51)

Kedua, memperhatikan dan merenungkan gejala-gejala pada kerajaan dilangit dan bumi, keajaiban-keajaiban dan keindahan-keindahan tiada tara yang ditebarkan Allah pada semua itu seperti diisyaratkan oleh firman-Nya:

"Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda kami di segenap penjuru dan pada diri mereka sendiri, sehinga jelaslah bagi mereka bahawa itu adalah haq. Dan apakah Tuhanmu tidak cukup (bagimu) bahawa sesunguhnya Dia menyaksikan segala sesuatu?" (41: 53)

Ketiga, mendasari setiap perbuatan dan kepentingan terhadap keimanannya secara lahir dan batin, terus menerus dalam hal itu sedaya upaya dan semampunya seperti diisyaratkan dalam firman Allah SWT:

"Dan orang-orang yang berjihad untuk mencari keredhaan Kami, benar-benar akan Kami tunjukan kepada mereka jalan-jalan Kami, dan sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik." (29: 69)

Diantara buah keyakinan adalah perasaan tenteram akan terlaksananya janji Allah, kepercayaan hati akan jaminan-Nya, pemusatan himmah seseorang pada-Nya, penghindaran diri dari segala yang memalingkan dari-Nya, kembali kepada-Nya dalam setiap keadaan, serta penyaluran seluruh daya dan tenaga dalam mencari keredhaan-Nya.

Secara umum, keyakinan adalah pokok utama sedangkan segala macam kedudukan yang mulia, akhlak terpuji dan amal-amal soleh adalah cabang-cabang serta buah-buahnya. Akhlak dan amal seseorang selalu mengikuti keyakinan dirinya baik dalam hal kuat atau lemahnya serta sihat dan sakitnya. Telah berkata Lukman a.s.:

"Tiada amal baik dapat dilaksanakan kecuali dengan keyakinan, tiada seorang hamba mampu beramal kecuali sekadar keyakianannya, dan tiada akan terkurang amalnya sampai berkurang pula keyakinannya."

Kerana itulah Rasulullah saw bersabda, "Keyakinan adalah keseluruhan keimanan."

Adapun keadaan keyakinan kaum Muslimin secara umum dapat dikelompokkan menjadi tiga macam tingkatan (keadaan keyakinan), iaitu:
Pertama, tingkatan kaum kanan (ashabul yamin), yakni kepercayaan yang pasti dan kuat namun masih disertai kemungkianan timbulnya keraguan dan kegoncangan apabila datang ahal-hal yang dapat mempengaruhinya. Keadaan seperti ini biasanya disebut keimanan (iman).

Kedua, tingkatan orang-orang yang didekatkan (muqarrabin), yakni berkuasanya iman atas hati secara penuh sedemikian rupa sehinga tidak terjadi sesuatu yang berlawanan dengannya. Keadaan seperti ini biasa disebut keyakinan (yakin).

Ketiga, tingkatan para Nabi dan pewaris mereka yang sempurna, yakni kaum yang tulus (as-shiddiqun), yaitu beralihnya sesuatu yang ghaib menjadi benar-benar hadir atau wujud dengan jelas di depan penglihatan mereka. Keadaan seperti ini biasa disebut "penyingkapan dan pandangan langsung."

Diantara masing-masing keadaan keyakinan itu terdapat perbezaan darjat yang cukup besar. Masing-masing mempunyai keutamaan meskipun sebahagian dari mereka lebih utama dari yang lainnya. Itulah kurnian Allah yang diberikan-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya dan sungguh Allah adalah Maha Pemurah, Maha Pelimpah kurnia yang Agung.

Dari penjelasan di atas, maka dapat difahami bahawa keyakinan adalah merupakan sesuatu yang penting dan pokok yang harus dipunyai setiap Muslim. Oleh kerana itu marilah kita tingkatkan dan kuatkan keyakinan kita. Semoga kita termasuk orang-orang yang keyakinannya semakin meningkat, teguh dan kukuh, amin.

Sumber: Dipetik dari kitab terjemahan Jalan Menuju Kebahagiaan, Allamah Sayyid Abdullah Haddad oleh Al-Islam oleh Pusat Informasi dan Komunikasi Islam Indonesia. http://www.alislam.or.id
TiDaK DiNaMaKaN HiDuP JiKa TiDaK aDa KeKuSuTaN. TiDaK DiNaMaKaN KeMaTaNgaN JiKa TiDaK aDa KeKaLuTaN.

 

Please login or register to leave a comment.
webmaster@mymasjid.net.my