Risalah Fikir (040) Islam Non Politik ? ?

Oleh Ustaz Jalil
29-Jul-2002 02:51
RF kali ini mengajak kita semua membuka minda, cuba saling bermuzakarah dan bermuhasabah,malah kalau perlu membuat penyelidikan2 dan tinjauan2, .........dsbnya, dalam usha kitakearah mempertingkatkan kefahaman diin yg suci murni dan tidak tercemar oleh unsur2 luaryg tidak sepatutnya. Wali Al-Fattaah adalah salah seorang alim/ulama Indonesia yang telahbegitu lama berkecimpung dlm dunia politik di Indonesia, tetapi akhirnya beliau mendapatkefahaman bahwa jalan politik yang dilalui oleh ummat Islam kini adalah bukan jalan yangsebenarnya yang dikehendaki oleh Allah swt. Malah jalan ini akan menarik ummat kpdperpecahan, firqah2 , keruntuhan demi keruntuhan
dsbnya yang akhirnya merugikan ummat Islam sendiri. Jalan yang dikehendaki Allah swt ialahjalan tuntunan WAHYU.

Berikut adalah petikan drp buku Khilaafah 'Alaa Minhaajin Nubuwwah, susunan WaliAl-Fattaah, halaman 43-53.

BAB III

ISLAM NON POLITIK [44]

Masaalah Politik, ini sebenarnya tidak terlalu mengikat sampai kita mengambil suatu ta'rifatau definisi [45]. Kita ambil secara umum
yaitu dilihat dari sumber dan prakteknya.

Sumber Politik
Pemikiran politik ini lazim dikenal berasal dari Yunani purba, sekitar
500-400 tahun sebelum tarikh masehi. Politik ini adalah SATU KARYA PIKIR dari masyarakatYunani purba dalam usaha mereka mencari suatu ketertiban untuk menata masyarakatnya,sehingga dari hasil pemikiran itu timbullah kata-kata POLIS, POLITEIA,

POLITIK [46].
Pada waktu itu rupanya masyarakat Yunani purba belum mengenal Nur Kenabian dan Kerasulan,dan memang tidak dikenal dalam sejarah, bahwa di Yunani itu terdapat seorang Nabi atauRasul yang telah mendapat Wahyu untuk membimbing ummat di negeri itu. Sehingga para ahlipikir di Yunani purba itu, yang terkenal dengan ahli-ahli filsafatnya, mencari suatu tatatertib dengan alam pikiran mereka untuk mengatur masyarakat. Dengan kemampuan otak yangtinggi, mereka itu memikirkan bagaimana caranya menata masyarakat dengan baik antaramanusia. Dari pemikiran itu lahirlah filsafat kenegaraan, filsafat kemasyarakatan,filsafat hidup dan lain-lain. Mereka merenungkan dan memikirkan semua itu.

Ahli-ahli pikir atau filosuf-filosuf yang terkenal waktu itu hingga sekarang inidiantaranya Socrates, Plato dan Aristoteles [47].

Mereka adalah ahli-ahli pikir ulung pada masanya dan buah fikiran atau filsafat mereka ituhingga sekarang ini menjiwai dunia barat pada umumnya, kecuali golongan Atheis (paham takbertuhan), yang dipuja paling tinggi ialah Karl Marx, Engels, Lenin, Stalin atau Mao TseTung. Tetapi pada umumnya dunia barat, kalau mereka kembali kepada
masaalah politik, maka kembalinya kepada zaman Yunani purba itu, kerana di sanalah pusatuntuk menata masyarakat secara politik.

Adapun mereka yang di dunia timur yang dikuasai oleh orang-orang barat, kemudian mengambililmu itu juga. Hal itu bisa dipahami, kerana demikian besar pengaruh budaya dunia barat didalam negari-negeri jajahan mereka. Maka tidak hairan kalau Wahyu itu juga dianggapsebagai politik Islam, kerana pengaruh budaya barat yang lama sekali menjajah dunia timur,dalam hal ini kebanyakan adalah dunia Islam itu.

Banyak juga ahli pikir atau filosuf tentang politik di Eropah atau di Amerika Syarikat,seperti Roosevelt, yang juga dianggap sebagai 'figure' yang mempunyai filsafat tentangkenegaraan. Pada masa jayanya Nazi Jerman, ialah Adolf Hitler, yang juga mempunyaifilsafat tentang
kenegaraan.

Partai Politik
Mengenai kepartaian, kalau kita mau meneliti lebih jauh, kita dapat membuka kembalisejarahnya. Kepartaian itu datang dari Inggeris, yaitu secara parlementer [48].

Di Inggeris, waktu itu raja mempunyai kekuasaan mutlak, tidak ada batasnya. Oleh keranaitu, perlu ada pembatasan menurut pandangan masyarakat Inggeris, untuk mengisiperwakilan-perwakilan rakyat.

Partai Politik Islam

Partai politik Islam, sebenarnya pengambilannya itu dari Barat, tidak dari Islam, keranadi dalam Islam sendiri tidak dikenal politik. Kami telah lebih dahulu menyatakan padazaman ramai-ramainya partai politik di Indonesia, bahwa partai politik Islam itupengambilannya dari Barat. Bukan dari Islam.

Kami (Wali Al-Fattaah/Pen.) dahulu SEBELUM MENYEDARI bahwa di dalam Islam tidak terdapatpolitik, dan WAHYU itu sebenarnya terpisah dari USAHA MANUSIA, berada dalam lingkungankepartaian, partai politik Islam di Indonesia mulai masa penjajahan dan waktu merdekapertama kali. Pada waktu itu 'ulama diam saja, tidak ada yang menyalahkan dan menunjukkanbahwa kalau berjuang secara Islam harus begini dan begini. Sehingga kami berlarut-larutdalam partai politik Islam.

Empat puluh tahun yang lampau (tahun 1930-an), kalau kami berpropaganda ke mana-mana, diantara semboyan kami waktu itu, ialah KALAU UMMAT ISLAM TIDAK BERPOLITIK, MAKA AKANMENJADI OBYEK POLITIK DARI ORANG DI LUAR ISLAM. KALAU KAU TIDAK MASUK POLITIK, NANTIDIMAKAN POLITIK. Ini merupakan salah satu ALAT KAMI untuk menarik ummat Islam.

Pada watu itu kami menjadi propagandis dari Pengurus Besar Partai Islam Indonesiaberkedudukan di Yogyakarta, di mana saudara Muhammad Natsir menjadi ketua cabang diBandung, Isa Anshari manjadi propagandis di Bandung, Prawoto Mangkusasmito menjadi ketuacabang di Jakarta, Abdul Gafar Ismail menjadi propagandis bersama kami di
Yogyakarta.

Tetapi setelah kami MENDAPAT PENGERTIAN dengan taqdir Allah swt, BAHWA WAHYU ALLAH ITUADALAH MURNI, DARI FIRMAN ALLAH DAN SABDA-SABDA RASULNYA, akhirnya kami mendapat satukesimpulan, BAHWA WAHYU ALLAH ITU NON-POLITIK.

Politik Dalam Praktek

Setiap politik yang dilaksanakan pasti ada pamrihnya, pasti ada yang dikehendakinya darimasyarakat yang ada itu, dan di mana saja orang-orang yang berpolitik itu menyebar, merekaberambisi, ambisi yang sifatnya KEKUASAAN DAN DUNIA SEMATA-MATA.

Kalau mereka itu kebetulan tidak mempunyai kekuasaan, maka unsur politik yang ada ditengah-tengah masyarakat di mana pemerintahan itu sudah ada, pasti berkeinginanmenggantikan atau menduduki fungsi dari pemerintahan yang ada itu.

Ini dapat dikontrol dan diperiksa di mana saja, baik di dunia Barat ataupun Timur.Kekuasaan itulah yang menjadi ciri khas dalam praktek politik, dan kekuasaan itu pulalahyang menjadi titik tujuan orang-orang yang berpolitik.

Dalam praktek politik, tidak pernah ada misalnya seorang politikus mengatakan bahwa iamenjalankan praktek politik kerana Allah semata-mata.

Bila seorang politikus ditanya : " Apakah saudara berpolitik itu untuk mencarikekuasaan atau tidak ? " ,  "Oh, tidak, saya lillaah ". Itu tidak ada.Diucapkan ada, tetapi dalam praktek politik itu tidak ada. Tidak ada dalam kamus politikyang menyatakan : " Saya berpolitik itu lillaah (kerana Allah swt semat-mata/pen.)".

Jadi, konsekuensi dari ilmu politik yang ada padanya, lalu dilaksanakan, maka dia membuatsuatu program politik, dianggapnya lebih baik dari pada program politik yang sedangdilaksanakan oleh penguasa yang ada pada saat itu.

Oleh kerana itu, dapat ditegaskan bahwa setiap unsur politik, baik itu yang mengaku Muslimatau Nasionalis atau Komunis dan macam-macam lagi namanya, semuanya mencari kekuasaan dantidak ada yang lillaah. Dikalangan Muslimin dahulu, kami pernah berkecimpung di duniakepartaian, yang katanya partai politik Islam. Barangkali sudah sama-sama maklum apa yangdisebut politik itu.

Timbulnya Firqah-Firqah

Rasuulullaah saw bersabda ......(mafhumnya)....:
" Ketahuilah, sesungguhnya orang-orang yang sebelum kamu dari Ahli Kitab, merekabercerai-berai atas 72 golongan, dan sesungguhnya Millah (ummat Islam) ini akanbercerai-berai menjadi 73 Millah : 72 dalam neraka dan 1 di dalam Jannah, yakniAl-Jamaa'ah". (Hadith riwayat AbuDaud [49]).

Menurut sabda Rasuulullaah saw di dalam hadith tersebut, sesuai pula dengankenyataan-kenyataan yang ada dewasa ini, dan demikian itu telah berlaku beberapa abad yangsilam dan terus menerus, maka kaum Muslimin pun tiada terhindar dari selisih dan sengketaantara mereka itu satu dengan yang lain, dengan akibat mereka itupun bergolong-golongan(firqah-firqah) sebagaimana dialami oleh kaum Ahli Kitab sebelumnya.

Perbedaan nasib Ahli Kitab dan ummat Nabi Muhammad saw di dalam sengketa dan pecahbelahitu, ialah Ahli Kitab pecahbelah menjadi 72 yang masing-masing golongan tetap dalamkebatilan. Sedang di kalangan ummat Islam terjadi perpecahan hingga 73 golongan (aliranpaham) dan satu di antaranya adalah : berdiri atas haq (teguh patuh mengikuti Allah danRasulNya), dan bagi golongan ini yang berwujud Al-Jamaa'ah sebagaimana dicontohkan olehNabi Muhammad, Rasul Allah terakhir, bersama-sama sahabat-sahabat beliau, adalah Jannah.

Notakaki:
[44] Uraian dalam bab ini adalah suntungan dari rekaman jawaban Wali Al-Fattaah ataspertanyaan pembahas A. Karim, S.H. pada Musyawarah Antara 'Alim 'Ulama dan Zu'ama,Organisasi-Organisasi Islam Tingkat Puncak Seluruh Indonesia di Aula Masjid Agung SundaKelapa, Jakarta, 25-27 Jamadil Awal 1394H/15-17 Juni 1974M., dan pidato beliau padata'aruf Jama'ah Muslimin (Hizbullah) di Jalan Enim. Tanjung Priuk, Jakarta Utara, bulanRabu'ul Awal 1395H. Pada sub judul "Bukan Penghasut", dan Buku Al-Jamaa'ahsebagai bentuk kemasyarakatan Islam, dari rekaman pidato beliau pada ta'aruf Jamaa'ahMuslimin (Hizbullah) di Masjid Al-Muqarrabin, Tanjung Priuk, 18 April 1970M.

[45] Para ahli politik berbeda dalam memberikan definisi/batasan politik. Namun
sasaran politik itu pada hakekatnya tertumpu pada negara dan kekuasaan.Prof. Mr. Dr. J.Barents dalam bukunya Ilmu Politika: Suatu Perkenalan Lapangan, 1953, halaman 19(terjemahan L.M. Sitorus) mengatakan, " Ilmu politik ialah ilmu yang mempelajaripenghidupan negara. Ilmu politik diserahi tugas untuk menyelidiki negara-negara itu,sebagaimana negara-negara itu melakukan tugas-tugasnya". W.A.
Robson dalam The University Teaching Of Social Sciences mmenyebutkan: " Ilmu politikmempelajari kekuasaan dalam masyarakat......". Batasan ini sama Deliar Noer dalamPengantar Ke Pemikiran Politik, yang menyebutkan : " Ilmu politik memusatkanperhatian pada masaalah kekuasaan dalam kehidupan bersama atau masyarakat". (MeriamBudiardjo, Dasar-Dasar Ilmu Politik, Gramedia Jakarta, 1983, halaman 10).

[46]
Polis = negara (berasal dari kata Yunani kuno), tetapi negara pada waktu itu masihmerupakan kota, negara kota. Plato menamakan bukunya yang mengupas negara"Politeia" yang bererti soal-soal kenegaraan, sedang Aristoteles"Politica," yang artinya ilmu kenegaraan, ilmu tentang polis. Dari situlah asalperkataan politik sekarang ini.(Ensiklopedi Umum, Kanasius, 1977, halaman 898).

[47] Socrates
(469-399 S.M.), ahli filsafat Yunani purba, bapak ahli filsafat dunia yang mula-mula. Iatidak meninggalkan sebuah buku karangan apapun setelah mengakhiri hidupnya dengan hukumanminum racun. Riwayat hidupnya ditulis oleh muridnya, Plato. Plato, (427-347 S.M.) lahir diAthena, murid Socrates. Karyanya di bidang politik berjudul "Republik" (mungkinyang paling termasyhur, suatu pengukapan tentang keadilan dengan gambaran suatu negarayang ideal). Aristoteles (364-322 S.M.),
filosuf Yunani dan ilmuan, lahir di stagira dan sering disebut Stagrite. Ia adalah salahseorang ahli pikir terbesar di seluruh zaman. Bukunya tentang politik berjudul"Politica". Karangan Plato dan Aristoteles banyak diterjemahkan ke dalam BahasaArab, tidak terkecuali mengenai politik, pada zaman Ma`mun Ar-Rasyid (Dinasti'Abbasiyyah). (Everyman's Encyclopaedia I halaman 198, 467, XI: 17, X: 83-84. EnsiklopediaIndonesia, W.Van Hoeve, halaman 79, 80,894, 1026, 1027).

[48] Asal mulanya ada kepartaian modern di negeri Inggeris, abad ke-17, ialah negeri yangsejak fase kapitalisme sudah masak untuk atelael parlementar (meski parlemen Inggerissebagai perwakilan kasta sudah ada lebih dulu). Kepartaian modern, yang lebih bersifatperorangan timbul dalam revolusi Perancis dan pada akhir abad
ke-19, terutama berkembang di negeri-negeri yang oleh struktur ekonominya dan olehperadaban kotanya mempunyai bakat demokrasi massa. (Boumann, Sociologie, Kanisius 1966,terjemahan Sugito-Sujitno, halaman 68). (Sebaliknya, bila mereka sudah mendapat kekuasaan,pasti mereka mempertahankan dengan sekuat-kuatnya/pen.).

[49] Sunan Abu Daud, Kitabus Sunah, Bab Syarhu As-Sunnah, Juz 4 halaman 198, Hadith
nomor 4597. Musnad Ahmad, Juz 4 halaman 102. Al-Hakim, Juz 1 halaman 128. Sunan Ad-Darimi,Kitab Al-Aisir, Bab Iftiraq Hadzihil Ummah, Juz 2 halaman 241. Al-Ajiry dalam Asy-Syari'ahhalaman 18. Al-Likaiy dalam Syarhu As-Sunnah 1:23. Sanad dari Hadith ini ialah...(mafhumnya)... : Dari Shafwan, ia berkata : " Telah menceritakan kepadaku Azharbin 'Abdillah Al-Hauzany, dari Abi 'Amir 'Abdullah bin Luhai'ah dari Mu'awiyah bin AbiSufyan, bahwasanya ia berdiri di hadapan kami lalu
berkata : " Ketahuilah, sesungguhnya Rasuulullaah saw telah berdiri di hadapan kami,lalu beliau bersabda:.....(Sebagaimana mafhum hadith diatas) . Al-Hakim berkata : "Sanad ini bisa dijadikan hujjah tentang kesahihan hadith ini".Dan Adz-Dzahabymenyepakati hadith ini. Al-Hafidz berkata dalam kitabnya Takhrijul Khasyaf halaman 63:"Sanad hadith ini hasan".

Al-Hafidz Ibnu Kathir juga menyebutkan Hadith tersebut dalam kitabnya Tafsirnya, juz 1halaman 390, yang diriwayatkan oleh Ahmad, hanya beliau tidak menjelaskan tentangkedudukan hadith tersebut, tetapi beliau menyebutkan tentang kesahihannya. Beliau berkata:" Hadith ini telah diriwayatkan oleh sanad yang banyak". Karena itu SyaikhulImam Ibnu Taimiyyah berkata dalam kitabnya "Al-Masail", juz 2 halaman 83 :"Hadith ini adalah sahih dan masyhur". Asy-Syatibiy dalam kitabnya"Al-I'tishom" juz 3 halaman 38, juga mensahihkan hadith ini. Yang mendhaifkanhadith ini adalah dari Syi'ah, dengan latar belakang kebencian terhadap Mu'awiyah yangmeriwayatkan hadith ini. ( Nasiruddin Al-Bany, Silsilah Al-Hadith As-Sahihah, MaktabulIslamy Beirut, cetakan kedua 1399H/1979M., juz 1 halaman 358-359, nomor hadith 203).
Penjelasan lebih jauh dapat dilihat pada juz dan halaman yg sama. Adapun hadith yangmenyebutkan :  "Ummatku akan bercerai-berai menjadi 70 golongan, semuanya masuksyurga kecuali satu". Para sahabat bertanya : " Siapakah mereka itu ?"
Ia berkata : "Az-Zanadiqah" . Disebutkan dalam kitab "Allaaly", bahwahadith dengan lafadz ini tidak ada aslinya. (Ismail bin Muhammad, Kasyful Khafa waMu-zilul Ilbas 'Ammasythahara Minal Ahaditsi 'ala Alsinatin-naasi, Darul Ihyait-TuratsyAl-Araby, Beirut, cetakan ketiga, juz 1 halaman 309).

Hadith2 sejenisnya(yg tidak benar dan palsu) menyebutkan:

1. Menceritakan kepadaku Abdul Wahab bin Mubarak, ia berkata, telah menceritakan kpdkuIbnuBakran dari Al-Atiqy dari Muhammad bin Marwan Al-Quraisyi, dari Muhammad bin 'UbadahAl-Washity dari Musa bin Ismail dari Mu'adz bin Yasin Az-Zihati, dari Abrad bin Asyrasy,dari
Yahya bin Sa'id dari Anas bin Malik, ia berkata: "Telah bersabda Rasuulullaah saw :  Ummatku berpecah belah menjadi 70 atau 71 golongan, semuanya masuk syurga kecualisatu golongan. Para sahabat bertanya : Siapakah mereka ya Rasuulallaah ? .Beliau menjawab: Yaitu orang2 zindiq dan mereka itu adalah orang2 golongan Qadariyah ".  Telahmeriwayatkan hadith ini Ahmad bin Ady Al-Hafidz dari hadithnya Musa bin Ismail dari Khalafbin Yasin dari Al-Abrad.

2. Menceritakan kpdku Abdul Wahab bin Mubarak dari Ibnu Bakran dari Al-Atiqy dari Yusufbin Dukhaili, dari Al-'Aqily dari Al-Hasan bin 'Ali bin Khalid Al-Laitsy dari Nu'aim binHamad dari Yahya bin Yasin Az-Zihati dari Sa'ad bin Sa'id (saudara Yahya bin Sa'id) dariAnas, ia berkata : "Telah bersabda Rasuulullaah saw : Ummatku akan berpecah belahmenjadi 73 golongan, semuanya masuk syurga kecuali satu, yaitu
zindiq".

3. Menceritakan kpdku Al-Jariri, dari Al-Isyary dari Ad-Daruqutny dari Abu Bakar Muhammadbin 'Usman Asy-Syaidalany dari Ahmad bin Dawud As-Sijithtaniy dari 'Usman bin 'AffanAl-Quraisyi dari Abu Ismail Al-Aili Hafsh bin 'Umar dari Mis'ar dari Sa'ad bin Sa'id, iaberkata : "Saya mendengar Anas bin Malik berkata : Saya mendengar Rasuulallaah sawbersabda : Ummatku berpecah belah menjadi 73 golongan, semuanya masuk syurga kecuali satu,yaitu zindiq ". Anas berkata :" Mereka itu adalah Al-Qadariyah". Hadith2tersebut tidak benar dari Rasuulullaah saw . Berkata 'ulama Son'ah : " Telah membuathadith ini Al-Abrad bin Asyrasi, dan ia adalah pembuat hadith palsu dan pendusta ".Yasin telah mengambil hadith ini, dan dia
membolakbalik sanadnya, dan mengambil 'Usman bin 'Affan. Adapun tentang Al-Abrad telahdijelaskan oleh Huzaimah, bahwa dia adalah pendusta dan pembuat hadith palsu. Adapun Yasintelah dijelaskan oleh Yahya, bahwa dia bukanlah ahli hadith, dan berkata An-Nasai, bahwadia adalah pendusta. Adapun tentang 'Usman Asy-Syaidalany, para ahli hadith sepakat, bahwadia adalah pendusta, tidak bisa dipercaya hadithnya. Adapun tentang Hafsh bin 'Umardikatakan oleh Abu Hatim Arrazy, bahwa dia adalah pendusta.

Kata Al-'Aqily, dia senantiasa menukil hadith dengan batil. Hadith2 tersebut dgn lafadzseperti itu bukan dari Rasuulullaah saw. Adapun lafadz hadith yang sebenarnya adalah...(mafhumnya)... : ".......semuanya masuk neraka, kecuali satu, yaituAl-Jamaa'ah". Hadith ini diriwayatkan banyak sahabat r.a., diantaranya : 'Ali bin AbiTalib, Sa'ad bin Abi Waqas, Ibnu 'Umar, Abu Darda`, Mu'awiyah, Ibnu 'Abbas, Jabir, AbuHurairah, Abu Umamah, Wathilah, 'Auf bin Malik, 'Amr bin 'Auf Al-Muzany r.'anhum .(dinukildari kitab "Al-Maudhu'aat" oleh Abul Faraj, 'Abdurrahman bin 'Aly bin JauziAl-Quraisyi, As-Safiyyah, Madinah, cetakan 1, 1386H/1968M., juz 1
halaman 268).

[Perhatian: Disini penghantar RF memberitahu bhw tidak semestinya semua pendapat2 danprinsip2 Wali Al-Fattaah menjadi pendapat2 dan prinsip2 penghantar RF].

Wassalaamu'alaikum wrb.,
Al-faqiiru ilallaah.

 

Please login or register to leave a comment.
webmaster@mymasjid.net.my